Kontak

Kontak

Kritik & Saran

Ketika Matahari Ditelan Raksasa

Gerhana Matahari merupakan sebuah gejala alam saat posisi bulan berada di antara Bumi dan Matahari sehingga menutup sebagian atau seluruh cahaya Matahari. Uniknya ukuran Bulan yang lebih kecil mampu melindungi cahaya Matahari sepenuhnya. Hal tersebut terjadi karena Bulan yang berjarak sekira 384.400 km dari Bumi lebih dekat dibandingkan Matahari yang mempunyai jarak sekira 149.680.000 km.

 

Para astronom memastikan bahwa sebagian kecil kota di Indonesia yang akan dilewati Gerhana Matahari Total (GMT) pada 9 Maret 2016. Beberapa kota yang tengah mempersiapkan diri menyambut GMT 2016 adalah: Palembang, Tanjung Pandan, Palangkaraya, Balikpapan, Palu, Ternate dan Sofifi. Kesempatan melihat Gerhana Matahari Sebagian juga ternyata bisa dinikmati oleh seluruh penduduk Indonesia. Termasuk seperti di Bali dan Bandung.

 

Gerhana Matahari Total akan terjadi apabila saat puncak gerhana, piringan Matahari ditutup sepenuhnya oleh piringan Bulan. Saat itu, piringan Bulan sama besar atau lebih besar dari piringan Matahari. Ukuran piringan Matahari dan piringan Bulan sendiri berubah-ubah tergantung pada masing-masing jarak Bumi-Bulan dan Bumi-Matahari.

 

Di balik penjelasan ilmiah terkait Gerhana Matahari, orang Nusantara memiliki mitos terkait peristiwa tersebut. Salah satunya adalah cerita tentang Batara Kala yang menelan Matahari sehingga membuat Bumi gelap sesaat. Mitos ini berkisah tentang keinginan Batara Kala yang ingin hidup abadi (tidak bisa mati) dengan cara mencuri air kehidupan (Tirtha Amertha atau Tirtha Kamandalu) di tempat tinggalnya para Dewa. Batara Kala berhasil mencuri Tirta Amerta dengan cara menyamar menjadi Dewa lalu meminumnya namun Batara Guru mengetahui hal itu dan segera melemparkan senjatanya (Cakra) hingga menebas leher Batara Kala  dan terpisah dari tubuhnya.

 

Terlambat, khasiat Tirta Amerta sudah bereaksi hingga tenggorokan sehingga Batara Kala tidak mati tetapi justru hidup dengan hanya kepalanya yang melayang sementara tubuhnya jatuh ke Bumi berubah menjadi penumbuk padi (lesung). Batara Kala murka karena kehilangan tubuhnya sehingga ia berusaha membalas dengan cara menelan Matahari agar dunia hidup dalam kegelapan.

 

Hingga kini di beberapa daerah di Nusantara warga masih memercayai mitos ini bila terjadi Gerhana Matahari maka mereka akan memukul-mukul lesung (yang dianggap jelmaan dari tubuh Batara Kala yang terpisah dari kepalanya) dengan harapan Batara Kala akan merasa geli dan memuntahkan Matahari yang ditelannya sehingga Bumi kembali terang.

 

Tidak hanya orang Nusantara yang memercayai ceita mitos saat terjadinya Gerhana Matahari. Di berbagai belahan dunia pun ada berbagai cerita kuno terkait hal tersebut. Orang Tiongkok memiliki mitos seputar Gerhana Matahari yang menganggap peristiwa tersebut disebabkan karena naga telah memakan Matahari. Warga dianjurkan untuk membunyikan segala alat musik atau menyalakan kembang api agar naga yang akan menelan Matahari segera lari. Meski para ahli perbintangan di Tiongkok dari masa 720 Sebelum Masehi sudah mengetahui bahwa itu merupakan fenomena alam namun kebiasaan membunyikan alat musik dan menyalakan petasan saat Gerhana Matahari masih dilakukan.

 

Di India juga serupa, Gerhana Matahari diisi mitos bahwa itulah saat dua setan, yakni Rahu dan Ketu berupaya menelan Matahari. Doa, puasa dan mandi ritual dianjurkan untuk dilakukan di sungai-sungai yang disucikan untuk menghindari efek negatif dari gerhana. Wanita hamil pun disarankan tetap berada di rumah untuk menghindari bayi mereka terlahir cacat.

 

Sementara itu, orang Mesir menganggap Gerhana Matahari merupakan akibat dari Dewa Matahari (Ra) yang coba dihentikan Dewa Ular Laut jahat (Apep) saat melintasi langit memimpin biduk berisi para Dewa. Saat kembali dalam perjalanan, Apep menghentikan perjalanan Dewa Ra sehingga terjadi Gerhana Matahari namun Dewa Ra selalu unggul berhasil lolos dari hadangan.